Critical Media Literacy UIN Mataram Cegah Penyimpangan Keagamaan

0
IMG-20251117-WA0003

RADIO SINFONI, Mataram – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Mataram menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Program ini mengusung tema “Critical Media Literacy Programme: Mitigasi dan Respon Terhadap Penyebaran Paham Keagamaan Menyimpang di UIN Mataram, bertempat di Aula FDIK UIN Mataram, Sabtu (15/11/2025).

Kegiatan pengabdian ini diinisiasi oleh Wakil Dekan II FDIK UIN Mataram, Dr. Siti Nurul Yaqinah dan Sekretaris Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Gemuh Surya Wahyudi. Hasil dari kekhawatiran atas perkembangan media digital yang digunakan sebagai alat penyebaran paham menyimpang di jajaran perguruan tinggi. Kegiatan dihadiri mahasiswa dari berbagai UKM dan Prodi yang ada di UIN Mataram yaitu LDMI, LPM Ro’yuna, Radio Sinfoni, UIN TV, BKI dan TI.

Wakil Dekan II FDIK UIN Mataram, Dr. Siti Nurul Yaqinah menjelaskan urgensi tema karena paham menyimpang berkembang dalam ruang digital.
“Paham radikal ini sudah merambat kepada ruang-ruang digital yang aksesnya sangat mudah,” tegasnya.

Baca Juga :  Pre Dies Natalis Ke - 58 UIN Mataram Exhibition

Selain itu, Sekretaris Prodi KPI, Gemuh Surya Wahyudi mengatakan isu keagamaan menyimpang masih menjadi prioritas pemerintah melalui Moderasi Beragama.
“Tingkat literasi yang melemah membuat masyarakat berpotensi terpapar paham-paham menyimpang,” ujarnya.

Kegiatan di isi oleh para pemateri yang fokus pada bidang antropologi digital dan paham tentang penyebaran paham radikal di perguruan tinggi. Antara lain Andi Muhammad Yusuf dan Muhammad Fahrudin Alawi memberikan arahan literasi digital kritis.
Keduanya menekankan pentingnya kemampuan membaca informasi secara menyeluruh untuk menilai konten digital.

Salah satu peserta, Muhammad Dika Sidqi, menyatakan kegiatan ini mendorong kebijaksanaan bermedia sosial.
“Kita sangat perlu bijak dalam menggunakan teknologi agar tidak terbawa paham radikal,” katanya.

Dalam pemaparan materinya, Muhammad Fahrudin Alawi berharap mahasiswa menjadi produsen konten positif berprinsip keberagaman dan toleransi.
“Mahasiswa dapat menghasilkan konten bertanggung jawab serta merangkul perbedaan agama dan mazhab,”

Baca Juga :  Destinasi Wisata Alam Bukit Pegasingan Sembalun

Selain itu, Andi Muhammad Yusuf menekankan pentingnya menyaring informasi tanpa meninggalkan fleksibilitas pemahaman keislaman.
“Kita tetap fleksibel melihat konteks untuk menciptakan ruang diskusi Islam yang inklusif,” tegasnya.

Penulis: Fitria Handini
Editor: Ananda Dwi Salsabila

Bagikan Yuuk..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *