RRI dan Radio Sinfoni Dorong Edukasi Permakultur

RADIO SINFONI-Mataram
RRI Mataram berkolaborasi dengan Radio Sinfoni menggelar kegiatan edukasi permakultur di Lombok Permakultur Ampenan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman generasi muda tentang mitigasi bencana yang terintegrasi dengan kemandirian ekonomi berbasis pemanfaatan sumber daya alam lokal. Yang berlokasi di Ampenan Kota Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB) Pada Minggu (25/01/2026).
Lombok Permakultur Ampenan dipilih sebagai lokasi kegiatan karena menerapkan konsep pembelajaran berbasis pancaindra. Peserta diajak berkeliling kebun untuk mengenali berbagai ekosistem tanaman, dilanjutkan dengan praktik pengolahan pangan serta penanaman pohon cendana. Penanaman tersebut merupakan kontribusi dari Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) NTB sebagai simbol pelestarian lingkungan.

Owner Lombok Permakultur, Dr. Indriyatno, S.Hut., M.Si., mengatakan edukasi mitigasi bencana di wilayah rawan tidak cukup dilakukan melalui teori semata. Menurutnya, pembelajaran berbasis laboratorium alam mampu melatih peserta mengenali potensi lingkungan secara langsung.
“Peserta dilatih menggunakan pancaindra untuk mengenali tanaman obat dan pangan lokal. Tujuannya agar masyarakat mandiri bertahan hidup sebelum bantuan datang saat akses terputus akibat bencana. Jika mampu membaca lingkungan, ancaman justru bisa menjadi berkah ekonomi,” ujarnya.
Ia berharap mahasiswa, khususnya calon penyiar, dapat membagikan pengalaman tersebut kepada masyarakat luas sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Sementara itu, perwakilan RRI Mataram, Agus Santosa, menyampaikan kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk memperkecil jarak komunikasi antara praktisi media, akademisi, dan mahasiswa. Ia menilai kegiatan tersebut juga menjadi jawaban atas kegelisahan generasi muda terkait kemandirian ekonomi.
“Mahasiswa tidak harus terpaku pada cita-cita menjadi ASN atau pegawai kantoran. NTB sebagai daerah pariwisata memiliki potensi besar di sektor agrowisata. Kebun dengan keanekaragaman tanaman justru lebih menarik wisatawan dan memiliki nilai ekonomi nyata,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sinergi ini sekaligus membuktikan radio tetap relevan di era digital melalui adaptasi platform audio visual, konten media sosial, dan produksi video singkat untuk menjangkau generasi muda.
Ketua Koordinator Radio Sinfoni, Salva Agustina Adriana, menilai kegiatan lapangan tersebut memberikan pengalaman berharga bagi kru Radio, tidak hanya dalam konteks penyiaran.
“Kami tidak hanya belajar siaran di studio, tetapi terjun langsung ke lapangan. Pengalaman ini akan kami kemas menjadi konten siaran edukatif untuk menginspirasi generasi muda,” tutupnya.
Kolaborasi RRI dan Radio Sinfoni ini diharapkan mampu menghadirkan konten kreatif berbasis praktik lapangan sekaligus mendorong kesiapsiagaan dan kemandirian generasi muda NTB dalam menghadapi perubahan iklim dan potensi bencana di masa mendatang.
Penulis: Siti Zaenab
Editor:Suryanti
